Kepala SMP Negeri 5 Lilirilau, Sallama.
Denews.id Soppeng-Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Lilirilau di Kampung DaoE Desa Masing Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng, berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Kabupaten Bone.
Satuan pendidikan ini merupakan salah satu sekolah Negeri yang berdiri sejak Tahun 2003 dibawah pembinaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng.Sekolah ini berjarak kurang lebih 30 km dari pusat Kota Watansoppeng.
Pada Tahun Ajaran 2023/2024 membina peserta didik sebanyak 56 orang terdiri 3 kelas dari tiga tingkatan, dengan jumlah tenaga pendidik sebanyak 7 orang yg berstatus PNS dan 4 orang yang berstatus non PNS.
Tahun pelajaran 2022/2023 hingga saat ini Tahun 2024 menggunakan Kurikulum Merdeka (Kelas VII dan VIII), dan pada Tahun pelajaran 2023/2024, SMP Negeri 5 Lilirilau melalui IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) terdaftar pada pilihan Mandiri Berubah.
SMP Negeri 5 Lilirilau di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Sallama, bersama-sama dengan tenaga pendidik yang lain senantiasa selalu berusaha untuk menerapkan penggunaan Chromebook dalam proses pembelajaran dikelas untuk meningkatkan sarana literasi digital bagi peserta didik.
Sallama mengatakan, itu tentunya sejalan dengan program pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang selalu mendorong untuk mengaktifkan penggunaan akun belajar yang sudah dimiliki baik tenaga pendidik maupun peserta didik.
Namun diakuinya, sampai hari ini, ada tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh tenaga pendidik dan peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran di kelas dalam kaitannya dengan penerapan Teknologi dan Informasi dalam penggunaan Chroomebook yang berbasis jaringan internet.Dimana di SMPN 5 Lilirilau mempunyai jaringan internet yang sangat lemah,sehingga dalam penerapannya tidak bisa maksimal.
"Kami sudah berusaha dan berupaya untuk memiliki sumber jaringan internet sendiri dan sudah berkomunikasi dengan pihak terkait khususnya pihak Telekomunikasi seluler dan bahkan sudah mendatangi sekolah dengan membawa alat deteksi atau pencari jaringan, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya dengan penjelasan bahwa memang posisinya sulit untuk mendapatkan jaringan dengan provider internet,"kata Sallama kepada DN , Sabtu (3/2).
Kendati demikian, pihak sekolah tetap selalu berusaha untuk mencarikan solusi yang terbaik agar peserta didik dapat terlibat secara langsung dalam penggunaan chroomebook dalam pembelajaran yaitu menyambungkan langsung dengan menggunakan hostpot pribadi dari pengguna yang lain.
Sehingga pelaksanaan pembelajaran berlangsung pada satu ruang kelas saja dari tiga tingkatan kelas secara bergantian.
"Kami tetap berusaha dan optimis dengan segala kekurangan yang ada di SMPN 5 Lilirilau, agar semua peserta didik dapat menikmati dan mengikuti pembelajaran yang berbasis IT dengan baik,"imbal Sallama.(*)