oleh

Ahli Konstruksi Buat Terdakwa Perusakan Ruko di Jalan Buru Tak Berkutik

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi ahli konstruksi bangunan dan gempa dalam sidang perkara pidana dugaan perusakan ruko di Jalan Buru, Kecamatan Wajo, Makassar yang mendudukkan Edy Wardus P sebagai terdakwa, Rabu (3/2/2021).

Dihadapan persidangan Pengadilan Negeri Makassar, Junus Mara yang merupakan ahli konstruksi bangunan dan gempa asal Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKI Paulus) Makassar itu, menjelaskan jika pembangunan baru ruko yang dikerjakan oleh terdakwa dikategorikan sebagai gagal konstruksi.

Selain mendirikan bangunan yang kedudukannya menindih bangunan ruko milik orang lain dalam hal ini korbannya, juga berdampak menimbulkan kerusakan parah terhadap sebagian bangunan milik korban yang dimaksud.

“Bangunan lama itu otomatis akan memikul beban akibat ditindih oleh bangunan baru. Itu jelas merupakan kegagalan konstruksi. Terlebih lagi, bagian dinding bangunan lama sebelumnya juga dibetel sehingga menimbulkan pori-pori pada dinding dan ketika lama-kelamaan terkena rembesan air maka menimbulkan karbonasi atau perubahan semen menjadi kapur. Dengan begitu kekuatan dinding atau tembok bangunan akan berkurang dan lama kelamaan dapat roboh,” terang Junus dihadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Basuki Wiyono.

Sementara saksi lainnya, Bohari alias Boha yang keterangannya dibacakan oleh JPU, Ridwan Saputra di hadapan Majelis Hakim mengatakan bahwa dirinya turut bekerja dalam pembangunan ruko baru di Jalan Buru pada tahun 2016.

“Saya bekerja sekitar 4 bulan. Awalnya saya diterima oleh Edy Wardus selaku pengawas, saat itu saya digaji Rp90 perhari,” ucap Bora dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Ia mengaku membetel tembok bangunan milik korban dalam hal ini, Irawati Lauw selama 2 hari dan yang menyuruhnya membetel tembok bangunan korban tersebut adalah Edy Wardus selaku pengawas.

“Saya membetel tembok bersama-sama dengan Sabri, Muhammad Saleh dan Mustafa. Panjang tembok yang dibetel sekitar 20 meter,” jelas Bora dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Ia pun menerangkan jika alat yang ia gunakan bersama Mustafa dan Muhammad Saleh untuk membetel bangunan tembok milik korban yakni menggunakan betel dan palu. Sedangkan alat yang digunakan Sabri membetel adalah mesin betel.

“Cara saya bersama Mustafa dan Muhammad Saleh berjejer dan masing masing mengambil betel dan palu, lalu mengarahkan betel ke tembok kemudian dipukul menggunakan palu berkali-kali hingga tembok tersebut terkelupas. Sedangkan Sabri menghidupkan mesin betel,” terang Bora dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Ia pun menjelaskan jika pembetelan bangunan tembok milik korban atas suruhan terdakwa, Edy Wardus.

“Kami hanya disuruh oleh Edy Wardus, tapi saya tidak tahu siapa pemilik bangunan tembok yang dibetel tersebut,” Jelas Bora dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Menanggapi keterangan saksi Bora tersebut, terdakwa membenarkan.

“Iya benar,” singkat Edy Wardus, terdakwa dalam perkara pidana dugaan perusakan ruko di Jalan Buru di hadapan Majelis Hakim.

Usai mendengarkan seluruh keterangan saksi baik saksi ahli konstruksi bangunan maupun saksi pekerja bangunan, Majelis Hakim lalu menutup sidang dan menjadwalkan kembali sidang selanjutnya pada Selasa pekan depan dengan agenda peninjauan setempat.

“Selasa pagi pekan depan yah kita peninjauan lokasi,” Basuki Wiyono, Ketua Majelis Hakim menandaskan.

Penjelasan Kuasa Hukum Korban

Jermias Rarsina, Kuasa Hukum korban, Irawati Lauw mengatakan dalam kasus pengrusakan ruko milik kliennya di Jalan Buru, terdapat tiga perbuatan yang dilakukan oleh buruh/pekerja bangunan atas perintah dari Edy wardus selaku pemborong yang sekarang ini menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Makassar.

Ketiga perbuatan tersebut, urai Jermias, antara lain membetel rumah yang menimbulkan kerusakan, membangun rumah di lantai 3 bagian atas dan menindih rumah milik korban, Irawati Lauw sehingga berakibat fatal yakni ruko mengalami kerusakan berupa gagal konstruksi yang sifatnya parmanen.

Kemudian, lanjut Jermias, pada saat melakukan kegiatan membangun, terjadi perusakan rumah milik korban yang disebabkan karena jatuhnya bahan material ke atap rumah korban dan mengalami kerusakan.

“Kesemuanya perbuatan terdakwa bersama para pekerja/buruh bangunan telah ditegur berkali-kali oleh korban, namun mereka tidak gubris dan tetap bekerja membangun rumah milik Jemis Kontaria yang berakibat merusak bangunan milik Irawaty Lauw sebagai korban,” terang Jermias.

Melihat penjelasan ahli kontruksi bangunan UKI Paulus Makassar, Junus Mata pada sidang Rabu, 3 Januari 2021 tadi, yang mana telah menerangkan secara keahliannya dalam kasus pengrusakan ruko di Jalan Buru yang ditelitinya setelah sebelumnya telah meninjau lokasi bersama pihak kepolisian Polda Sulsel maka dapat disimpulkan bahwa benar telah terjadi pengrusakan ruko milik korban dalam arti telah terjadi gagal konstruksi secara parmanen.

Hal itu disebabkan karena sewaktu membangun rumah milik Jemis Kontaria telah terjadi penindihan pada rumah milik korban Irawaty Lauw tepatnya di bagian lantai 3.

Akibat yang terjadi dari cara membangun seperti itu adalah perusakan rumah berupa tembok menjadi retak dan rumah korban Irawaty Lauw memikul beban rumah dari Jemis kontaria yang secara ilmu konstruksi berdampak pada gagal konstruksi secara parmanen rumah dari korban Irawaty Lauw.

“Keterangan ahli tersebut menunjukan secara hukum bahwa perusakan ruko milik Irawati Lauw, unsur perbuatan pidananya telah terpenuhi terhadap perbuatan terdakwa selaku pemborong yang memerintahkan para buruh/pekerja bangunan untuk membangunkan rumah milik Jemis Kontaria menindih rumah milik korban,” ucap Jermias.

Secara hukum dengan adanya keterangan ahli konstruksi saja, lanjut Jermias, sudah cukup membuat terang delik perusakan yang terjadi atas kasus perusakan ruko milik Irawaty Lauw yang berlokasi di Jalan Buru.

Kasus ini secara ajaran delneming (penyertaan), kata Jermias, sudah terpenuhi unsur tanggung jawab pidananya kepada terdakwa selaku pemborong oleh karena sudah terjadi kontak fisik antara terdakwa (Edy Wardus) dengan pihak korban Irawaty Lauw.

Dimana perbuatan merusak rumah yang mereka lakukan telah ditegur berkali-kali, namun mereka tetap bekerja dan tidak mengindahkan larangan dari korban selaku orang yang berhak/pemilik rumah yang dirusak.

“Perbuatan terdakwa Edy Wardus tidak bisa menghindari tanggung jawab pidana, sekali pun dia beralasan menjalankan pekerjaan. Secara hukum, sekali pun menjalankan pekerjaan untuk membangun tetapi prinsip hukumnya adalah jangan merusak rumah orang lain (in cassu korban). Karena itu berarti telah menimbulkan perbuatan melawan hukum pidana (Weder Recht Telijkheid) dan dapat dipidana,” Jermias menjelaskan.

Sebelumnya, tepatnya pada sidang yang digelar Rabu 13 Januari 2021, dua saksi korban masing-masing Irawati Lauw dan Agus Tansil juga telah memberikan keterangan.

Dalam persidangan, Irawati Lauw menjelaskan duduk perkara yang menimpanya selaku korban. Dimana kejadian perusakan ruko miliknya bermula pada tahun 2016 silam.

“Jadi perkara ini lama menggantung sudah 4 tahun berlalu kami mencari keadilan yang mulia,” ucap Irawati.

Ia menceritakan, dahulu kondisi rukonya yang diperkirakan sudah berusia 40 tahun itu baik-baik saja. Nanti mengalami kerusakan setelah ada pekerjaan pembangunan ruko milik Jemis Kontaria di sampingnya. Pilar depan, dinding hingga atap di lantai dua rukonya mengalami kerusakan parah.

“Jadi ruko saya nanti rusak setelah ruko Jemis terbangun. Bangunan rukonya tepat menduduki bangunan ruko saya. Itu yang kerja adalah terdakwa (Edy Wardus) selaku pemborong pekerjaan,” jelas Irawati.

Ia pun sempat berkali-kali menegur terdakwa maupun pemilik bangunan, Jemis. Namun yang ada, keduanya hanya datang meminta maaf tanpa memperbaiki kerusakan yang ada sampai sekarang ini.

“Kerugian material yang kami alami sesuai dengan keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) itu senilai Rp300 juta,” kata Irawati.

Hal yang sama juga diungkapkan saksi korban lainnya, Agus Tansil. Di depan persidangan, Agus mengaku pada saat kejadian, terdakwa bersama pemberi pekerjaan (Jemis) sempat datang menemui dirinya.

“Keduanya meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki kerusakan yang ada. Tapi kenyataannya mereka tak punya itikad baik dan sampai sekarang tak kunjung memperbaiki kerusakan yang ada,” terang Agus.

Malah, lanjut Agus, keduanya melapor balik dirinya dengan dugaan penyerobotan lahan. Meski laporan yang mereka adukan itu tidak terbukti dan akhirnya tidak berproses.

“Jadi sejak awal mereka tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah. Janji ingin memperbaiki tapi sampai sekarang tidak ada niat memperbaiki,” jelas Agus.

Diketahui, perkara pidana dugaan perusakan ruko milik Irawati Lauw itu awalnya ditangani Kepolisian Sektor Wajo dengan menetapkan beberapa orang buruh yang dipekerjakan oleh Almarhum Jemis Kontaria menjadi tersangka.

Jemis pun mencoba membela para buruhnya dengan melakukan upaya hukum praperadilan ke Pengadilan Negeri Makassar. Hakim tunggal, Cenning Budiana, yang memimpin sidang praperadilan kala itu menerima upaya praperadilan yang diajukan oleh para buruh.

Perkara itu pun akhirnya berhenti (SP3). Namun kasus ini kembali dilaporkan ke Polda Sulsel dan akhirnya ditetapkanlah Jemis Kontaria selaku pemberi pekerjaan dan Edi Wardus Philander selaku pemborong pekerjaan sebagai tersangka.

Keduanya pun juga sempat mengajukan upaya praperadilan ke Pengadilan Negeri Makassar. Namun sidang praperadilan yang dipimpin Hakim tunggal Basuki Wiyono menolak gugatan dan menyatakan status keduanya sebagai tersangka dinyatakan sah secara hukum dan memerintahkan agar penyidikannya segera dilanjutkan.

Namun belakangan berkas perkara tak kunjung rampung alias 5 tahun bolak-balik antara JPU dan penyidik Polda Sulsel. Korban pun sempat menyurat ke Komisi Kejaksaan hingga Komisi Perpolisian agar perkaranya bisa mendapat atensi dan akhirnya memasuki tahun keempat barulah dinyatakan rampung dan saat ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Makassar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed